Penantian Masyarakat Dukuh Tumbu Akhirnya Terwujud, Ruwat Bumi Berlangsung Meriah dan Penuh Kebersamaan



Pemalang – Penantian panjang masyarakat Dukuh Tumbu, Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, untuk kembali menyelenggarakan tradisi Ruwat Bumi akhirnya terwujud. Kegiatan yang digelar pada Sabtu (4/7/2026) di tanah lapang milik salah seorang warga tersebut berlangsung meriah dan dipenuhi semangat kebersamaan masyarakat.

Sejak pagi hari, ratusan warga telah memadati lokasi untuk mengikuti seluruh rangkaian acara. Panitia juga menjadwalkan kehadiran Bupati Pemalang, Anom Widayantoro, S.E., M.M., sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya dan tradisi masyarakat.

Acara diawali sekitar pukul 08.30 WIB dengan arak-arakan delapan gunungan yang berisi aneka hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian warga. Gunungan tersebut merupakan simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan hasil panen yang diperoleh.

Suasana semakin semarak ketika sekitar 90 armada kendaraan ikut mengiringi arak-arakan gunungan mengelilingi wilayah Desa Pulosari dan sekitarnya. Ratusan warga dari berbagai kalangan turut berjalan bersama dalam iring-iringan tersebut sehingga menjadi tontonan menarik sekaligus hiburan bagi masyarakat.

Setelah arak-arakan selesai, acara dilanjutkan dengan prosesi penyerahan Banyu Panguripan, yakni air yang diambil dari sumber mata air yang disakralkan oleh masyarakat setempat. Air tersebut dibawa oleh para dayang dan diserahkan kepada Kepala Dusun Tumbu, Lugimin, bersama para tokoh masyarakat sebagai simbol doa, harapan, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh warga.

Dalam sambutannya, Kepala Dusun Tumbu, Lugimin, menyampaikan rasa syukur serta apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan penyelenggaraan Ruwat Bumi.

"Terima kasih kepada seluruh warga Dukuh Tumbu atas partisipasi, kekompakan, dan semangat gotong royongnya sehingga kegiatan Ruwat Bumi ini dapat terlaksana dengan baik. Walaupun Dukuh Tumbu tidak memiliki lapangan sendiri, namun hal tersebut tidak mengurangi semangat masyarakat untuk menyelenggarakan tradisi yang menjadi warisan budaya ini," ujarnya.

Kepada awak media, Lugimin menjelaskan bahwa tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan warga dalam menjaga tradisi leluhur.

"Alhamdulillah, pada hari ini warga masyarakat Dukuh Tumbu sangat antusias dalam pelaksanaan Ruwat Bumi. Walaupun Dukuh Tumbu hanya terdiri dari tujuh RT dan dua RW, namun semangat masyarakat luar biasa. Seluruh anggaran pelaksanaan kegiatan ini murni berasal dari swadaya masyarakat. Masing-masing RT mengirimkan gunungan yang dibuat dari sayur-sayuran dan buah-buahan hasil pertanian warga sendiri. Ke depan kami akan berusaha melaksanakan kegiatan ini kembali, namun semuanya tetap bergantung pada kehendak masyarakat, karena kami sebagai kepala dusun hanya menjalankan apa yang menjadi keinginan warga," jelasnya.

Ia berharap tradisi Ruwat Bumi dapat terus dilestarikan dan menjadi sarana mempererat persatuan warga sekaligus membawa keberkahan bagi masyarakat.

"Harapan kami ke depan, dengan adanya Ruwat Bumi ini masyarakat Dukuh Tumbu senantiasa diberikan ketenteraman, kemakmuran, serta keberkahan dalam kehidupan sehari-hari," pungkas Lugimin.

Rangkaian kegiatan masih berlanjut pada sore hari dengan prosesi doa bersama terhadap seluruh gunungan yang dipimpin para sesepuh Dukuh Tumbu. Setelah didoakan, gunungan akan diperebutkan oleh masyarakat dalam tradisi yang dipercaya membawa berkah bagi siapa saja yang memperoleh hasil bumi tersebut.

Sebagai puncak acara, pada malam harinya masyarakat akan disuguhkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Sigit Djono Saputra yang membawakan lakon "Temurune Wahyu Kamulyan".

Dalam kegiatan Ruwat Bumi tahun ini dijadwalkan hadir Bupati Pemalang Anom Widayantoro, S.E., M.M., Kepala Desa Pulosari H. Sutarno, Camat Pulosari Arif Senoaji, S.STP., M.Si., jajaran Forkopimcam Pulosari, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Melalui penyelenggaraan Ruwat Bumi ini, masyarakat Dukuh Tumbu tidak hanya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai gotong royong, persatuan, dan rasa syukur atas hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan warga. Tradisi ini diharapkan dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang sebagai identitas budaya yang membanggakan bagi Dukuh Tumbu dan Desa Pulosari.


Nasopari / Sahli

Subscribe to receive free email updates: