Ruwat Bumi Dusun Sipendil Berlangsung Meriah, Warga Syukuri Hasil Panen dengan Grebeg Gunungan dan Wayang Kulit


Pemalang – Masyarakat Dusun Sipendil, Desa Gunungsari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, menggelar tradisi tahunan Ruwat Bumi dengan penuh khidmat dan kemeriahan pada Jumat–Sabtu, 26–27 Juni 2026. Kegiatan yang telah menjadi warisan budaya turun-temurun ini berlangsung meriah dengan dihadiri ratusan warga dari berbagai kalangan yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Acara Ruwat Bumi tahun ini diawali pada Jumat (26/06/2026) dengan sejumlah prosesi adat dan keagamaan. Kegiatan pembuka dimulai dengan pawai gunungan, di mana warga membawa gunungan yang disusun dari berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, padi, dan hasil pertanian lainnya. Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dan hasil panen yang melimpah.

Setelah pawai gunungan, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi pamundutan banyu, sebuah ritual adat yang sarat makna spiritual. Tradisi ini merupakan simbol permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar masyarakat senantiasa diberi keberkahan, keselamatan, serta sumber kehidupan yang melimpah, khususnya air yang menjadi unsur penting bagi pertanian warga Dusun Sipendil.

Pada malam harinya, suasana berubah menjadi lebih khusyuk dengan digelarnya Istighozah bersama. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat memanjatkan doa bersama untuk keselamatan desa, kesejahteraan warga, serta harapan agar hasil pertanian di masa mendatang semakin baik. Lantunan doa dan dzikir yang menggema menciptakan suasana religius yang menyejukkan.

Puncak acara digelar pada Sabtu (27/06/2026) dengan prosesi ritual Ruwat Bumi yang menjadi inti dari seluruh rangkaian kegiatan. Prosesi ini dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan, sekaligus memohon perlindungan dari berbagai marabahaya.

Setelah ritual utama selesai, kemeriahan berlanjut dengan Grebeg Gunungan, yaitu arak-arakan gunungan besar yang dibuat dari hasil bumi masyarakat Dusun Sipendil. Gunungan yang tersusun indah dari aneka hasil pertanian tersebut menjadi daya tarik utama. Warga tampak antusias menyaksikan bahkan berebut hasil bumi yang ada di gunungan karena dipercaya membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya.

Sebagai penutup sekaligus hiburan utama, panitia menghadirkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang kondang Ki Warid Carito dari Banyumas. Pada kesempatan tersebut, Ki Warid Carito membawakan lakon berjudul “Semar Kembar”, yang sarat akan pesan moral, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kehidupan. Pagelaran wayang kulit ini sukses menarik perhatian masyarakat yang memadati lokasi acara hingga larut malam.

Kepala Desa Gunungsari, Teteg Winanteya, menyampaikan rasa syukur serta apresiasinya atas suksesnya pelaksanaan acara Ruwat Bumi tahun ini.

“Kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada masyarakat Dusun Sipendil yang telah menyukseskan acara Ruwat Bumi ini. Tidak lupa kepada panitia pelaksana, karena semua ini dapat terlaksana berkat kerja sama yang solid. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan sumbangsih dan partisipasinya dalam acara ini,” ujarnya.

Sementara itu, bendahara panitia penyelenggara, Rizki, menegaskan bahwa tradisi Ruwat Bumi bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi memiliki nilai sosial dan budaya yang sangat kuat bagi masyarakat.

“Acara semacam ini sudah menjadi tradisi desa kami yang setiap tahunnya diselenggarakan. Ruwat Bumi merupakan bentuk rasa syukur warga Dusun Sipendil atas hasil panen yang selama ini dirasakan. Acara ini bukan hanya tradisi sakral yang terus dilestarikan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga untuk memperkokoh semangat gotong royong yang selama ini berjalan,” ungkapnya.

Pelaksanaan Ruwat Bumi di Dusun Sipendil tahun ini kembali membuktikan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur. Selain menjadi wujud rasa syukur atas hasil bumi, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat persaudaraan, melestarikan budaya lokal, serta menanamkan nilai gotong royong kepada generasi muda agar tradisi luhur ini tetap terjaga di masa mendatang.


Nasopari 

Subscribe to receive free email updates: